Generasi Hutatinggir
Rabu, 15 Mei 2013
indosiar.com, Simalungun - Generasi penerus budaya dan seni Simalungun kini hampir punah. Minat generasi muda Simalungun untuk menggeluti budaya dan seni Simalungun kini semakin pudar, dan bahkan hampir dikatakan sirna. Untuk melestarikan budaya dan seni tersebut, dibutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Simalungun. Demikian dikatakan oleh L Saragih, salah satu Pengrajin Alat Tradisional Budaya Simalungun kepada kontributor indosiar.com ketika ditemui di kediamannya “Anjuau” di Jalan Sudirman Pematang Raya, Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun beberapa waktu lalu.
Menurut L Saragih, minat pemuda Simalungun untuk belajar budaya Simalungun kini jarang ditemukan. Untuk melestarikan budaya tradisional Simalungun, perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun masih minim. Dikatakan, sejak tahun 1958, dirinya menggeluti pembuatan ukir-ukiran Budaya Tradisional Simalungun, hingga kini belum ada generasi penerus untuk melestarikan budaya tradisional tersebut.
L Saragih menambahkan bahwa dirinya kini masih aktif membuat cinderamata tradisional Simalungun seperti, Tungkot (tongkat ukiran), Duda-Duda (alat penumbuk sirih terbuat dari besi kuningan), Lopak (tempat menyimpan kapur sirih terbuat dari besi kuningan).
Selain itu, juga aktif membuat Gotong (topi khas Budaya Simalungun), Simbola Pagar (rantai gotong terbuat dari besi kuningan), Pisau Marsombah (pisau terbuat dari besi kuningan dengan ukiran khas Simalungun), dan Ponding (kepala ikat pinggang yang terbuat dari kuningan).
Menurut Saragih, selain membuat alat tersebut, dirinya juga aktif memainkan Gondrang 7 hata (gendang 7 buah), Sordam (suling dua lobang), Suling, Sarunei (serunai kayu). Saragih juga pernah meraih sejumlah prestasi dalam Lomba Musik Tradisional di Simalungun.
Selain meraih juara satu Umum Tortor Sombah (tarian Raja Simalungun) pada HUT TNI ke- 55 tahun 2000 lalu, dirinya juga pernah meraih juara satu Gondrang Simalungun dalam pesta Budaya Simalungun “Rondang Bintang” di Haranggaol tahun 1998.
Dikemukakan, menggeluti pengrajin ukiran dan seni tradisional Simalungun merupakan profesi yang menjanjikan. Diakuinya, L Saragih mampu menyekolahkan lima anaknya hingga keperguruan tinggi dari profesi pengrajin alat tradisional Budaya Simalungun.
“Cinderamata dan seni tradisional budaya Simalungun kini masih langka dijumpai. Harga cinderamata budaya Simalungun tergololong mahal. Harga satu set Gotong mencapai Rp 2,5 hingga Rp 3 juta. Harga ditentukan dengan jenis cinderamata,” ujar pria kelahiran Pematang Raya tahun 1958 ini.
Menurutnya, jika Pemerintah Kabupaten Simalungun tidak memperhatikan pelestarian Budaya Tradisional Simalungun tersebut, dikhawatirkan generasi pengrajin alat dan seni Budaya Tradisional Simalungun akan punah.
Dirinya menghimbau agar pemerintah setempat memasukkan program-program muatan local, seperti keterampilan dan seni Budaya Simalungun di di sekolah-sekolah. Hal itu penting untuk mengembangkan seni dan budaya Simalungun di negeri sendiri. (Kontributor: Rosenman/Tom)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar