Generasi Hutatinggir

Generasi Hutatinggir
WELL COME TO HUTATINGGIR ST@R

Senin, 13 Mei 2013

PAROKI ST. FRANSISKUS ASSISI SARIBUDOLOK:
LADANG PANGGILAN
TERSUBUR
(Tulisan dalam rangka Jubileum Paroki Seribudolok)

Tak hanya lahan pertanian, peternakan serta perikanan yung luas yang menandakan kesuburan paroki st. Fansiskui Assisi Saribudolok ini. Panggilan hidup meniadi biarawan-hiarawati meniadi ikon kesuburan paroki ini dalam tata kehidupan menggereia Katolik Tentu ini semua tak terlepas dari peran dan perjuangan Oppung Dolok dan vetetan-veteran Gereia.


AWAL KEHADIRAN MISI


1. Tahap Awal: Pastor non Pribumi (tahun 1935 - 1970)


Gereja Katolik Paroki Saribudolo, dirintis dan dikembangkan oleh Misionaris Kapusin Provinsi Belanda, P. Elpidius van Duijnhoven, OFMCap. Pada 16 Februari 1934 P. Elpidius tiba di Belawan, kemudian ditempatkan di Pematangsiantar. Pada 1935 pemerintah Belanda secara resmi mengizinkan misi Katolik masuk ke Tanah Batak. P. Elpidius berorientasi dan bermisi di


daerah Simalungun sebelah Utara dan Timur Danau Toba. Tahun inilah yang dianggap menjadi tahun resmi kehadiran Gereja Katolik di Paroki Saribudolok.


Karena masih sangat terbatas dalam penguasaan bahasa dan Peta daerah, melihat kesempatan sudah terbuka untuk misi Katolik, P. Elpidius merekrut Kenan Mase Hutabarat menjadi 'guru" bahasa, katekis sekaligus rekan dalam bermisi. Ia juga merekrut Laur Viator Hutabarat.


Misi ke Paroki Saribudolok diawali di Saba Dua, sekitar 7 km dari Pematangsiantar. Pada masa ini penduduk daerah Simalungun secara umum masih menganut agama tradisional, hanya sebagian kecil yang sudah beragama Protestan.


Selama 3 tahun P. ElPidius mempelajari daerah Simalungun Atas. Sambil mengamati Prospek misi ternyata ia sudah mulai mendirikan beberapa stasi, 40 - 60 km dari Saba Dua. Sungguh menakjubkan bahwa dalam waktu yang masih sangat.singkat permulaan misinva. yakni Pada 24

November 1935, P. ElPidius telah mengadakan pembaptisan pertama di Haranggaol terhadap Maknir Paulus Sihaloho.

Sebenamya pada masa awal misi, daerah Simalungun Atas tidak hanya dilayani oleh P. Elpidius, tetapi juga oleh P. Nepomucenus Hamer, OFMCaP. yang datang dari Sidikalang. Mereka sungguh menjadi duet misionaris yang handal, bukan hanya di daerah Simalungun tetapi sampai ke Tanah Karo dan Aceh Tenggara. Namun ingatan dan cerita tentang P. Hamers pelan-pelan

redup di ranah Simalungun karena pada akhir tahun 1939 ia lebih memusatkan perhatian di Sidikalang dan tinggal menetap di sana. P. Elpidius pun tinggal sendirian. Walau sendiri, namun naluri misi P. Elpidius tetap menggelora. Dia segera mengatasi kesendiriah itu dengan mendidik dan merekrut tenaga awam (katekis) Pribumi untuk mendukung karya misinya.

Bersama Petrus Datubara, ayah dari Uskup Emeritus KAM, Mgr. Pius Datubara, P. ElPidius mengunjungi stasi-stasi secara teratur dan umat Katolik pun terus bertambah. Melihat perkembangan ini, dipikirkan membuka pusat pelayanan di daerah Saribudolok yang merupakan Pusat Perdagangan dan letaknya cukup sentral antara Pematangsiantar dan Aceh Tenggara. Kebetulan pula di Saribudolok sudah ada stasi kecil. Stasi inilah Yang menjadi pusat kegiatan gerejani bagi P. Elpidius pada awalnya.


Melihat Prospek misi Yang semakin terbuka dan cerah tahun 1951 ia memohon Pengutusan katekis kepada Uskup Medan, Mgr. Ferrerius van Den Hurk. Uskup pun mencoPot "katekis tentara" dari Medan, yakni Bonaventura Yaep Lin Hin atau lebih dikenal Bonaventura. Kemudian mengutusnya ke Saribudolok untuk membantu P. Elpidius. Begitu cintanya umat dan massarakat kepada Bonaventura, ia pun dinobatkan bermarga Purba.


Dalam Periode l95l – 1973 bersama para misionaris hampir 50-an stasi telah mereka dirikan. Dengan perkembangan umat yang begitu pesat dan luasnya wilayah penggembalaan P. Elpidius merasa tidak sanggup bekerja sendiri. Selain dibantu oleh katekis, akhimya ia juga dibantu oleh

misionaris lainnya, yakni P. Hendricus Blaijs, OFMCap. (November 1963 -April 1968) dan P. Evaristus Albers, OFMCap. (Februari 1966 – Agustus 1974).

Perkembangan paroki bukan hanya dalam jumlah umat tetapi juga pertumbuhan dan perkembangan panggilan menjadi biarawan-biarawati. Panggilan hidup menjadi biarawan-biarawati bertumbuh amat subur. Tepatnya pada 01 Agustus 1950 beberapa putri Paroki Saribudolok menjadi suster, di antaranva Sr. Bernadetta Saragih, KSSY dari Stasl Haranggaol, Sr. Marietta purba, KSSY dan Sr. Yosefine Batubara, KSSy yang keduanya berasal dari Stasi Purbasaribu. Mereka menjadi putri Paroki Saribudolok yang pertama sekali menjadi suster. Dari mereka bertiga, kini hanya Sr. Bernadetta Saragih, KSSY yang masih berjiarah di dunia ini. Sementara itu, pada 0l Agustus 1961 seorangputra Paroki Saribudolok telah masuk novisiat hingga ditahbiskan menjadi imam. Dialah P. Thomas Saragi, OFMCap. Yang menjadi imam pertama dan ditahbiskan pada l0 Februari I 968.


2. Masa transisi: Pastor non pribumi - Pastor Pribumi (tahun 1970 - 1985)

Secara umum bukan hanya umat yang bertambah pesat, panggilan untuk menjadi calon biarawan-biarawati juga bertumbuh dengan subur. Imam-imam pribumi mulai muncul. Maka sejak Juli 1970 Paroki Saribudolok tidak lagi hanya dilayani oleh pastor-pastor dari Belanda tetapi juga para pastor pribumi. Pastor pribumi yang pertama sekali berkarya di Paroki Saribudolok adalah P. Fidelis Sihotang, OFMCap.

3. Tahap Ketiga : Pastor pribumi (tahun 1985 * 1991)

Seiring dengan perjalanan waktu, usia PastorElpidius semakin lanjut dan misionaris dari Belanda pun semakin berkurang. Tugas kegembalaan pun harus diemban oleh pastor pribumi. Bahkan pada periode ini sebagai tanggungjawab umat terhadap keberadaan imam, cukup banyak umat yang menyekolahkan anaknya ke Seminari untuk dididik menjadi imam. Hingga tahun 2010, anak paroki Saribudolok telah 23 orang ditahbiskan menjadi imam,2 diakon, 4 bruder yang
telah berkaul kekal, 150-an suster yang tersebar di berbagai kongregasi/tarekat dan masih banyak lagi calon-calon imam dan suster yang sedang belajar di seminari menengah, seminari tinggi dan novisiat. Umat Paroki Saribudolok sungguh bangga bila anak-anaknya terpanggil menjadi biarawan dan biarawati.

4. Tahap Keempat : Dewan pastoral Paroki (tahun I99I - sekarang)

Sesudah sekitar 56 tahun berkarya, P. Elpidius telah “tiada” dan kepemimpinan paroki telah diemban para pastor pribumi. Paroki Saribudolok pun dianggap telah dewasa. Sebagai pengikut Kristus, Gereja sungguh sadar bahwa Tuhan tidak hadir secara fisik dan menuntun umat dengan perintah nyata sebagaimana lazimnya seorang guru, namun sungguh percaya akan kehadiran Kristus secara batiniah dan pendampingan Roh Kudus. Maka DPP disahkan dan dikukuhkan dalam jabatan kepemimpinan kolegalial dan beberapa karunia pelayanan juga dilembagakan untuk memelihara tata tertib dan melestarikan kesinambungan.

Maka pada tahun 1990 dibentuklah Dewan Pastoral Paroki (DPP). Dengan adanya DPP, penggembalaan paroki bukan lagi hanya ditanggungjawabi oleh para pastor melainkan bersama

awam yang dianggap mampu dan berdedikasi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Paroki Saribudolok pun menunjukkan pertumbuhan jumlah umat yang amat signifikan. Tercatat per 31 Desember 2009, Paroki Saribudolok telah berjumlah 61 stasi dan 5 persiapan stasi, yakni: Mardingding (31 KK), BagotRaja(15 KK), Hoppoan(18 KK), SinarBaru (20 KK), Gaja pokki (lS KK). Jadi, praktisnya Paroki Saribudolok terdiri dari 66 stasi. Dengan jumlah umat30.553jiwa . Selain karya dalam pewartaan iman, paroki ini juga telah lama bergerak dalam karya kesehatan dan karya pendidikan. Karya kesehatan, yakni Poliklinik St. Fransiskus (dikelola para suster SFD). Karya pendidikan, antara lain: TK St, Maria (dikelola para suster SFD); SD Don Bosco, SMp Bunda Mulia, SMP St. Agustinus dan SMA Duijnhoven yang dikelola yayasan St. Yosef Medan. Untuk mendukung sekolah ini didirikan asrama putera

yang dikelola oleh Kapusin provinsi Medan dan asrama puteri oleh para suster SFD.

Di Paroki Saribudolok terdapat tiga latar belakang budaya dominan, yakni Simalungun, Karo dan Toba. Baik dari segi adat maupun bahasa, ketiga budaya ini tetap saling mempengaruhi satu samalain. Akan tetapi di pihak lain sebagai gereja, kita juga perlu menjaga dan mengembangkan budaya Simalungun dalam terang iman Katolik. Jika budaya Simalungun ingin dikembangkan, Pematang Raya menjadi pilihan tempat yang perlu diperhatikan.


Setelah beberapa tahun terakhir, dengan jadinya Pematang Raya menjadi ibu kota Kabupaten

Simalungun, pemikiran ke arah Pemekaran Paroki Raya semakin berhembus kencang. Situasi sekarang menunjukkan bahwa Kota pematang Raya terus berkembang dan bertumbuh pesat. Kota Pematang Raya telah menjadi salah satu pusat “pergerakan orang" di Simalungun; pergerakan ekonomi, pemerintahan, politik, social budaya, pendidikan, informasi dan sebagainya. Dengan belum hadimya Gereja Katolik sebagai paroki di Ibu Kota Kabupaten Simahungun, kita tidak tahu informasi tentang pergerakan berbagai hal yang ada di tengah masyarakat, misalnya informasi politik dan pembangunan. Akhirnya kita diam sehingga tidak diperhitungkan dalam pemerintahan.(AGM)

Suku Simalungun

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Suku Batak Simalungun
Ulos dan Rumah Batak

Jumlah populasi
3,5 juta jiwa (perkiraan 2008).
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Sumatera Utara: 3 juta jiwa.
Bahasa
Bahasa Simalungun (asli). Bahasa Indonesia dan bahasa Batak lain juga digunakan.
Agama
Protestan, Islam, Katolik, dan Animisme.
Kelompok etnik terdekat
suku Batak Toba, suku Batak Karo
Batak Simalungun adalah salah sub Suku Bangsa Batak yang berada di provinsi Sumatera Utara, Indonesia, yang menetap di Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Beberapa sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga) tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun.
Orang Batak menyebut suku ini sebagai suku "Si Balungu" dari legenda hantu yang menimbulkan wabah penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena bertempat di sebelah timur mereka.

Daftar isi

Asal-usul

Terdapat berbagai sumber mengenai asal usul Suku Simalungun, tetapi sebagian besar menceritakan bahwa nenek moyang Suku Simalungun berasal dari luar Indonesia.
Kedatangan ini terbagi dalam 2 gelombang [1]:

  1. Gelombang pertama (Simalungun Proto ), diperkirakan datang dari Nagore (India Selatan) dan pegunungan Assam (India Timur) di sekitar abad ke-5, menyusuri Myanmar, ke Siam dan Malaka untuk selanjutnya menyeberang ke Sumatera Timur dan mendirikan kerajaan Nagur dari Raja dinasti Damanik.
  2. Gelombang kedua (Simalungun Deutero), datang dari suku-suku di sekitar Simalungun yang bertetangga dengan suku asli Simalungun.
Pada gelombang Proto Simalungun di atas, Tuan Taralamsyah Saragih menceritakan bahwa rombongan yang terdiri dari keturunan dari 4 Raja-raja besar dari Siam dan India ini bergerak dari Sumatera Timur ke daerah Aceh, Langkat, daerah Bangun Purba, hingga ke Bandar Kalifah sampai Batubara.
Kemudian mereka didesak oleh suku setempat hingga bergerak ke daerah pinggiran danau Toba dan Samosir.
Pustaha Parpandanan Na Bolag (pustaka Simalungun kuno) mengisahkan bahwa Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau.
Kini, di Kabupaten Simalungun sendiri, Akibat derasnya imigrasi, suku Simalungun hanya menjadi mayoritas di daerah Simalungun Atas.

Kehidupan masyarakat Simalungun

Peta pembagian kecamatan Kabupaten Simalungun ke dalam Simalungun Atas dan Simalungun Bawah.[2][3]
Sistem mata pencaharian orang Simalungun yaitu bercocok tanam dengan padi dan jagung, karena padi adalah makanan pokok sehari-hari dan jagung adalah makanan tambahan jika hasil padi tidak mencukupi. Jual-beli diadakan dengan barter, bahasa yang dipakai adalah bahasa dialek. "Marga" memegang peranan penting dalam soal adat Simalungun. Jika dibandingkan dengan keadaan Simalungun dengan suku Batak yang lainnya sudah jauh berbeda.

Sistem Politik

Pada masa sebelum Belanda masuk ke Simalungun, suku ini terbagi ke dalam 7 daerah yang terdiri dari 4 Kerajaan dan 3 Partuanan.[4]
Kerajaan tersebut adalah:
  1. Siantar (menandatangani surat tunduk pada belanda tanggal 23 Oktober 1889, SK No.25)
  2. Panei (Januari 1904, SK No.6)
  3. Dolok Silou
  4. Tanoh Djawa (8 Juni 1891, SK No.21)
Sedangkan Partuanan (dipimpin oleh seseorang yang bergelar "tuan") tersebut terdiri atas:
  1. Raya (Januari 1904, SK No.6)
  2. Purba
  3. Silimakuta
Kerajaan-kerajaan tersebut memerintah secara swaparaja. Setelah Belanda datang maka ketiga Partuanan tersebut dijadikan sebagai Kerajaan yang berdiri sendiri secara sah dan dipersatukan dalam Onderafdeeling Simalungun.

Tunduknya Kerajaan Siantar kepada Belanda

Dengan Besluit tanggal 24 April 1906 nomor 1 kemudian diperkuat lagi dengan Besluit tanggal 22 Januari 1908 nomor 57, Raja Siantar Sang Naualuh dinyatakan dijatuhkan dari tahtanya selaku Raja Siantar oleh pemerintah Hindia Belanda. Selama menunggu Tuan Kodim dewasa (akil baligh), pemerintahan kerajaan Siantar dipimpin oleh suatu Dewan Kerajaan yang terdiri dari Tuan Torialam (Tuan Marihat) dan Tuan Riah Hata (Tuan Sidamanik) dan diketuai oleh Kontelir Simalungun.
Setelah dibuangnya Raja Siantar Sang Naualuh dan Perdana Menterinya Bah Bolak oleh Belanda pada tahun 1906 ke Bengkalis, maka sudah ratalah kini jalan untuk memaksakan Dewan Kerajaan Siantar yang diketuai Kontelir Belanda itu dan dibentuklah Besluit tanggal 29 Juli 1907 nomor 254 untuk membuat Pernyataan Pendek (Korte Verklaring) yang berisi takluknya Siantar kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dari isi surat-surat dokumen Belanda tersirat bahwa diturunkannya Tuan Sang Naualuh dari tahta Siantar dan dibuangnya ia bersama perdana menterinya ke Bengkalis, adalah terutama karena latar belakang: Ia bersama hampir seluruh orang-orang besar Kerajaan Siantar adalah anti penjajahan Belanda; bahwa merembesnya propaganda Islam ke Simalungun khususnya dan Tanah Batak umumnya tidaklah disenangi oleh penjajah Belanda.
Pada 16 Oktober 1907 Kerajaan Siantar dinyatakan tunduk kepada Belanda oleh Tuan Torialam dan Tuan Riah Hata, melalui suatu Verklaring (Surat Ikrar). Dalam butir satu dari Verklaring yang memakai aksara Arab Melayu dengan Bahasa Melayu dan aksara Latin dengan Bahasa Belanda itu, tertulis:
Ten eerste: dat het landschap Siantar een gedeelte uitmaakt van Nederlandsch Indie en derhalve staat onder de heerschappij van Nederland.”
(Pertama: bahwa wilayah Siantar merupakan bagian dari Hindia Belanda dan karena itu berada di bawah kerajaan Belanda). Selain itu masih ditambahkan pernyataan bahwa akan setia kepada Ratu Belanda dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Surat ikrar tersebut selengkapnya sebagai berikut:
SURAT IKRAR
Bahwa ini ikrar kami: Si Tori Alam , Tuan Marihat dan Si Ria Hata Tuan Sidamanik. Yaitu : bersama masuk komisi pemerintahan jajahan negeri Siantar mengaku tiga perkara yang tersebut di bawah ini , yaitu :

Pasal yang pertama.

Bermula ikrar kami bahwa sesungguhnya negeri Siantar jadi suatu bahagian daripada Hindia Nederland , maka takluklah negeri Siantar itu kepada kerajaan Belanda , maka wajiblah atas kami selama-lamanya bersetia kepada Baginda Sri Maharaja Belanda dan kepada wakil baginda yaitu Sri Paduka yang dipertuan besar Gubernur Jenderal Hindia Nederland , maka oleh Sri Paduka yang dipertuan besar Gubernur dikurniakan kepada kami jabatan pemerintahan di dalam Negeri Siantar.

Pasal yang kedua.

Maka mengakulah dan berjanjilah kami , bahwa kami tiada akan membicarakan suatu apa dari pada ikwal kami dengan Raja - raja yang asing , melainkan musuh Baginda Sri Maharaja itu musuh kami , begitu juga sahabat Sri Maharaja Belanda itu Sahabat kami adanya.

Pasal yang ketiga.

Bahwa mengakulah dan berjanjilah kami , bahwa sesungguhnya segala peraturan hal ikwal Siantar , baik yang telah diaturkan , baik yang akan diikrarkan oleh atau dengan nama Baginda Sri Paduka yang dipertuan besar Gubernur Jenderal Hindia Nederland atau wakilnya semua pengaturan itu kami hendak menjalankan akan segala perintah yang diperintahkan kepada kami , baik oleh Sri paduka yang dipertuan besar Gubernur Jenderal baik oleh wakilnya , semua perintah itu kami hendak menurutkan juga adanya. Demikianlah Ikrar yang telah kami mengaku dengan bersumpah di Pematang Siantar pada enam belas Oktober 1907, dan tersurat tiga helai yang sama bunyinya.
Si Tori Alam
Si Ria Hata ( Anggota dari komisi Kerajaan Siantar )
Disaksikan oleh Si Jure Lucan O'Brien , Controleur Simalungun. Ikrar ini disyahkan dan dikuatkan pada tanggal 22 Januari, 1908.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda

d.t.o
( V.Heutz )

Sejak Surat Ikrar Torialam dari Marihat dan Riah Hata dari Sidamanik itu, Kerajaan Siantar akhirnya di bawah pengawasan Belanda. Belanda kemudian menobatkan putra Sang Naualuh yang masih teramat muda dan bukan dari permaisurinya, Tuan Riah Kadim, menjadi raja pengganti. Tuan Riah Kadim yang masih polos itu kemudian diserahkan Belanda kepada Pendeta Zending Guillaume di Purba. Pada Tahun 1916, Tuhan Riah Kadim diubah namanya menjadi Waldemar Tuan Naga Huta dan diakui Belanda sebagai Raja.

Dengan Korte Verklaring, 16 Oktober 1907 tersebut, Belanda juga membagi kerajaan Siantar menjadi 37 Perbapaan dan tuan Sauadim, Damanik ke XV. Perbapaan dari Bandar diangkat Belanda menjadi Raja Siantar yang berakhir sampai Revolusi Simalungun di tahun 1946.

Korte Verklaring
tersebut dituangkan dalam proses - Verbal / Berita Acara sebagai berikut:[5]
Pada hari ini tanggal 16 Oktober 1907 hadir di hadapan saya Jure Lucan O'Brien . Controleur Simalungun. Op heden , den Zestienden october negentien honderd en zevend , voor mij , J.L.O'Brien , Controleur van Simeloengoen.
  1. Si Saoeadim , Toean Van Bandar
  2. Si Badjandin , Toean Van Bandar Poelau (salah 1 keturunannya adalah Drs. Tuan Zulkarnain Damanik, MM, Bupati Simalungun periode 2005-2010)
  3. Si Kani , Toean Van Bandar Bajoe
  4. Si Djamin , pemangkoe Van Toean Negeri Bandar
  5. Si Mia , Toean Van Si Malangoe
  6. Si Kama , Roumah Suah
  7. Si Bisara , Nagodang
  8. Si Djommaihat , Toean Kahaha
  9. Si Djarainta , Toean Boentoe
  10. Si Djandioeroeng , Toean Dolok Siantar
  11. Si Silim , Toean Van Bandar Sakoeda
  12. Si Djontahali , Toean Van Mariah Bandar
  13. Si Rimmahala , Toean Van Naga Bandar
  14. Si Kadim , Toean Van Bandar Tonga
  15. Si Tongma , Bah Bolak Van Pematang Siantar
  16. Si Naman , Toean Van Lingga
  17. Si Djaha , Toean Van Bangoen
  18. Si Djibang , Toean Van Dolok Malela
  19. Si Djandiain , Toean Van Silo Bajoe
  20. Si Lampot , Toean Van Djorlang Hoeloean
  21. Si Djanji-arim , Toean Van Maligas Bandar
  22. Si Djadi , Toean Van Sakuda
  23. Si Radjawan , Toean Van Gunung Maligas
  24. Si Djaoelak , Toean Van Tamboen
  25. Si Tahan Batoe , Toean Van Si Polha
  26. Si Ria Kadi , Toean Van Manik Si Polha
  27. Si Ganjang , Toean Van Repa
  28. Si Djoinghata , Toean Van Pagar Batoe
  29. Si Djaingot , Toean Van Si Lampoeyang
  30. Si Djaoeroeng , Toean Van Gadjing
  31. Si Mahata , Toean anggi Van Sidapmanik
  32. Si Bandar , Toean Manik Hataran
  33. Si Takkang , Toean Van Tamboen Rea
  34. Si Rian , Toean Van Manik Maradja
  35. Si Marihat , Toean Van Perbalogan
  36. Si Pinggan , Toean Van Hoeta Bajoe
  37. Si Djoegmahita , Toean Van Manggoetoer
Dimana mereka sebagai para kepala kerajaan / perbapaan , dihadapan saya telah menerangkan dan bersetuju dengan keterangan yang dibuat ini hari oleh komisi kerajaan Siantar dengan kehadirannya atas sumpah dan dikuatkan dalam ikrar ini. Demikian diperbuat ikrar ini berdasarkan berita acara dengan tiga rangkap.
Pematang Siantar , 16 Oktober 1907.-
Controleur Simalungun.
d.t.o
(Jure Lucan O'Brien)

Partuanan

Selain 3 partuanan yang tersebut kemudian muncul beberapa partuanan lainnya yaitu antara lain:
  1. Parbalogan
    • Tuan Parbalogan Op.Dja Saip Saragih Napitu, yang wilayahnya dari parmahanan hingga ke tigaras.
  2. Sipolha
    • Semua Keturunan Raja Naposo Damanik:
      1. Si Tahan Batoe Toean Van Si Polha / Toean Laen / Nai Tukkup
        • Salah satu keturunannya adalah Tuan Jahutar Damanik dan Tuan Humala Sahkuda Damanik ( Hutabolon Sipolha ) orang tua dari: Tuan Djapurba Damanik, Tuan Djabagus Damanik, Tuan Djabanten Damanik, mantan Bupati Kabupaten Simalungun, Tuan Djahormat Damanik, Mora br.Damanik, Mayun br. Damanik.
      2. Si Ria Kadi Toean Van Manik Si Polha
      3. Toean Gurasa Dolok Sumurung / Bandar Sipolha
      4. Toean Intan Pulo Bosar Sipolha
      5. Tuan Kalabosar (Dolok Maraja Sipolha)
      6. Tuan Paraloangin (Jambur Na Bolag Sipolha)
      7. Tuan Parangsangbosi (Paribuan Sipolha)
      8. Si Ria Kadi Toean Van Manik Si Polha / Toean Markadim / Nai Simin
        • Keturunannya: Tuan Paraloangin Damanik, Tuan Parangsangbosi Damanik, Tuan Kalabosar Damanik
      9. Tuan Paraloangin Damanik (Tuan Jambur Na Bolag Sipolha)
        • Lawei-nya yaitu Radja Israel Sinaga Prapat dari Parapat, salah satu keturunannya adalah Tuan Labuhan Asmin Damanik (Tuan Jambur Na Bolag berikutnya), yang keturunannya adalah Prof.DR SC Reynold Kamrol Damanik (USU), Prof. DR. David Tumpal Damanik (USA), Cand.DR.Ec Daulat Damanik MA. (Jerman).
      10. Tuan Parangsangbosi Damanik ( Tuan Paribuan Sipolha )
        • Salah satu keturunannya adalah Brigjend. Pol. (Purn) Muller Damanik, SH (Mantan Rektor USI P.Siantar).
      11. Tuan Kalabosar Damanik ( Tuan Dolok Maraja Sipolha )
        • Salah satu keturunannya adalah Ir. Syamsirun Damanik (mantan salah satu Direktur Kementrian Pertanian RI) dan Drs. Pangsa Damanik.
      12. Toean Gurasa Dolok Sumurung / Bandar Sipolha
        • Salah satu keturunannya Mayjen TNI (Purn) Pieter Damanik (Mantan Dubes RI di Philipina), Ir. Djagunung Damanik, dan Revol Damanik.
  3. Sipintu Angin (tuan op.S.Saragih Turnip)
    • Merupakan orang tua dari Saragih Ras yang hingga kini tugunya (tugu Hoda Bottar) masih terlihat di perbatasan Panatapan Ds. Tigaras.
Partuanan-partuanan ini tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Belanda saat itu, di daerah dilakukan perlawanan perlawanan kecil secara bergerilya.

Bahasa & Aksara

Bahasa Simalungun
Hata Simalungun
Dituturkan di Kabupaten Simalungun (Sumatera Utara, Indonesia)
Wilayah Kabupaten Simalungun
Jumlah penutur 1 juta  (tidak ada tanggal)
Rumpun bahasa
Kode-kode bahasa
ISO 639-3 –
Suku Simalungun menggunakan Bahasa Simalungun (bahasa simalungun: hata/sahap Simalungun) sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo, Batak, dan sebagainya. Penggunaan Bahasa Batak sebagian besar disebabkan penggunaan bahasa ini sebagai bahasa pengantar oleh penginjil RMG yang menyebarkan agama Kristen pada Suku Ini.
Aksara yang digunakan suku Simalungun disebut aksara Surat Sisapuluhsiah.[6][7][8]

Kepercayaan

Bila diselidiki lebih dalam suku Simalungun memiliki berbagai kepercayaan yang berhubungan dengan pemakaian mantera-mantera dari "Datu" (dukun) disertai persembahan kepada roh-roh nenek moyang yang selalu didahului panggilan kepada Tiga Dewa yang disebut Naibata, yaitu Naibata di atas (dilambangkan dengan warna Putih), Naibata di tengah (dilambangkan dengan warna Merah), dan Naibata di bawah (dilambangkan dengan warna Hitam). 3 warna yang mewakili Dewa-Dewa tersebut (Putih, Merah dan Hitam) mendominasi berbagai ornamen suku Simalungun dari pakaian sampai hiasan rumahnya.
Orang Simalungun percaya bahwa manusia dikirim ke dunia oleh naibata dan dilengkapi dengan Sinumbah yang dapat juga menetap di dalam berbagai benda, seperti alat-alat dapur dan sebagainya, sehingga benda-benda tersebut harus disembah. Orang Simalungun menyebut roh orang mati sebagai Simagot. Baik Sinumbah maupun Simagot harus diberikan korban-korban pujaan sehingga mereka akan memperoleh berbagai keuntungan dari kedua sesembahan tersebut.[9]
Patung Sang Budha menunggang Gajah koleksi Museum Simalungun, yang menunjukkan pengaruh ajaran Budha pada Masyarakat Simalungun.
Ajaran Hindu dan Budha juga pernah memengaruhi kehidupan di Simalungun, hal ini terbukti dengan peninggalan berbagai patung dan arca yang ditemukan di beberapa tempat di Simalungun yang menggambarkan makna Trimurti (Hindu) dan Sang Buddha yang menunggangi Gajah (Budha).

Marga

Harungguan Bolon

Terdapat empat marga asli suku Simalungun yang populer dengan akronim SISADAPUR[10], yaitu:
Keempat marga ini merupakan hasil dari “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).
Keempat raja itu adalah[11]:

Raja Nagur bermarga Damanik

Damanik berarti Simada Manik (pemilik manik), dalam bahasa Simalungun, Manik berarti Tonduy, Sumangat, Tunggung, Halanigan (bersemangat, berkharisma, agung/terhormat, paling cerdas).

Raja Banua Sobou bermarga Saragih

Saragih dalam bahasa Simalungun berarti Simada Ragih, yang mana Ragih berarti atur, susun, tata, sehingga simada ragih berarti Pemilik aturan atau pengatur, penyusun atau pemegang undang-undang.
Rumah Bolon Raja Purba di Pematang Purba, Simalungun.

Raja Banua Purba bermarga Purba

Purba menurut bahasa berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Purwa yang berarti timur, gelagat masa datang, pegatur, pemegang Undang-undang, tenungan pengetahuan, cendekiawan/sarjana.

Raja Saniang Naga bermarga Sinaga

Sinaga berarti Simada Naga, dimana Naga dalam mitologi dewa dikenal sebagai penyebab Gempa dan Tanah Longsor.

Marga-marga perbauran

Perbauran suku asli Simalungun dengan suku-suku di sekitarnya di Pulau Samosir, Silalahi, Karo, dan Pakpak menimbulkan marga-marga baru.
Selain itu ada juga marga-marga lain yang bukan marga Asli Simalungun tetapi kadang merasakan dirinya sebagai bagian dari suku Simalungun, seperti Lingga, Manurung, Butar-butar dan Sirait.

Perkerabatan Simalungun

Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal silsilah karena penentu partuturan (perkerabatan) di Simalungun adalah hasusuran (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?"
Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).
Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.
Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:[12]
  • Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.
  • Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun
  • Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Pakaian Adat

Kain Adat Simalungun disebut Hiou. Penutup kepala lelaki disebut Gotong, penutup kepala wanita disebut Bulang, sedangkan yang kain yang disandang ataupun kain samping disebut Suri-suri.
Sama seperti suku-suku lain di sekitarnya, pakaian adat suku Simalungun tidak terlepas dari penggunaan kain Ulos (disebut Uis di suku Karo). Kekhasan pada suku Simalungun adalah pada kain khas serupa Ulos yang disebut Hiou dengan berbagai ornamennya.
Ulos pada mulanya identik dengan ajimat, dipercaya mengandung "kekuatan" yang bersifat religius magis dan dianggap keramat serta memiliki daya istimewa untuk memberikan perlindungan. Menurut beberapa penelitian penggunaan ulos oleh suku bangsa Batak, memperlihatkan kemiripan dengan bangsa Karen di perbatasan Myanmar, Muangthai dan Laos, khususnya pada ikat kepala, kain dan ulosnya.[13]
Secara legenda ulos dianggap sebagai salah satu dari 3 sumber kehangatan bagi manusia (selain Api dan Matahari), namun dipandang sebagai sumber kehangatan yang paling nyaman karena bisa digunakan kapan saja (tidak seperti matahari, dan tidak dapat membakar (seperti api). Seperti suku lain di rumpun Batak, Simalungun memiliki kebiasaan "mambere hiou" (memberikan ulos) yang salah satunya melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima Hiou. Hiou dapat dikenakan dalam berbagai bentuk, sebagai kain penutup kepala, penutup badan bagian bawah, penutup badan bagian atas, penutup punggung dan lain-lain.
Hiou dalam berbagai bentuk dan corak/motif memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda, misalnya Hiou penutup kepala wanita disebut suri-suri, Hiou penutup badan bagian bawah bagi wanita misalnya ragipanei, atau yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari yang disebut jabit. Hiou dalam pakaian penganti Simalungun juga melambangkan kekerabatan Simalungun yang disebut tolu sahundulan, yang terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (abit).
Menurut Muhar Omtatok, Budayawan Simalungun, awalnya Gotong (Penutup Kepala Pria Simalungun) berbentuk destar dari bahan kain gelap ( Berwarna putih untuk upacara kemalangan, disebut Gotong Porsa), namun kemudian Tuan Bandaralam Purba Tambak dari Dolog Silou juga menggemari trend penutup kepala ala melayu berbentuk tengkuluk dari bahan batik, dari kegemaran pemegang Pustaha Bandar Hanopan inilah, kemudian Orang Simalungun dewasa ini suka memakai Gotong berbentuk Tengkuluk Batik.

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ Herman Purba Tambak, SIB 3 September 2006, hlm. 9
  2. ^ Laporan Daerah Tingkat II Simalungun, tahun 1963, P. Siantar, 1963, hlm. 2. Dimuat dalam: R.W. Liddle, Suku Simalungun: An Ethnic Group in Search of Representation, dalam Indonesia, Vol. 3, (Apr., 1967), hlm. 1-28.
  3. ^ Cornell South East Asia Program: William R. Liddle, Suku Simalungun: An Ethnic Group in Search of Representation.
  4. ^ J.P. Siboro (ed), 60 tahun Indjil Kristus di Simalungun, Pimpinan Pusat GKPS, P. Siantar, 1963, hlm. 7.
  5. ^ Jahutar Damanik, NPV: 2.029.293, Raja Sang Naualuh , Sejarah Perjuangan Kebangkitan Bangsa Indonesia , Medan, medio 1981 cetak ulang tahun 1987
  6. ^ 80 Tahun Djariaman Damanik, Gaya Media Pratama, Jakarta, 2000, hlm. 335-336.
  7. ^ J.R. Hutauruk, Kemandirian Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993, hlm.164.
  8. ^ F. Marodjahan Purba, Undang-undang ni Surat Simalungun, Kalangan Sendiri, Pamatang Raya, 1974, hlm.1-58.
  9. ^ De Resident der Oostkust op Sumatra, Nota van toelichting betreffende de Simeloengoensche landschappen Siantar, Panei, Tanah Djawa en Raja, Medan, 13 Mei 1909, hal.3-4 dalam Apulman Saragih, Gema Sinalsal, Skripsi STT Jakarta, 1979, hlm.12.
  10. ^ The Simalungun Protestant Church in Indonesia, a brief history, Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 1983, hlm. 6
  11. ^ Pdt Juandaha Raya P Dasuha, STh, SIB(Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun) 22 Oktober 2006
  12. ^ Jaumbang Garingging, Palar Girsang, Adat Simalungun, Medan, 1975
  13. ^ Biranul Anas / Jonny Purba, Busana Tradisional Batak
==> PA TABBA-TABBA PARBINOTOAN NI MUNTHE SIHILAP <==
*********************************************
SILSILAH, ASAL USUL dan HUBUNGAN HARO MUNTHE DENGAN TAMBA SERTA HARO MUNTHE TIDAK SAMA DENGAN HARO RAJA GUK-GUK
Oleh Pomparan Tamba Tua dan Junipar Munte di Keluarga Besar Munthe (Berkas) · Sunting Dokumen
Silsilah Dan Asal Usul Haro Munthe

Naimbaton adalah nama seorang ibu istri pertama Tuan Sorimangaraja. Disebut Naiambaton karena anaknya bernama Siambaton yang disebut juga sebagai Tuan Sorba Dijulu atau Suli Raja. Menurut cerita Ibu Naimbaton inilah yang berpesan kepada anaknya Siambaton agar keturunannya bersatu. Sisada lulu anak si sada lulu boru artinya tetap merasa satu keluarga dan tidak saling mengawinkan anak antar sesama mereka di kemudian hari.

Tuan Sorba Dijulu (Siambaton) mempunyai empat orang anak;
- Simbolon Tua
- Tamba Tua
- Saragi Tua
- Munthe Tua

Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah anak Tuan Sorba Dijulu, dimana ada yang mengatakan mempunyai 4 (empat) orang anak, dan juga ada yang mengatakan mempunyai 5 (lima) orang anak, dan anak yang ke-5 adalah bernama Nahampun Tua.

Munte Tua yang merupakan anak ke-4, dari Naimbaton mempunyai 3 orang anak, yaitu;
- Ompu Raja Panguruan
- Ompu Jelak Maribur
- Ompu Jalak Karo

Ompu Jelak Maribur mempunyai 2 orang anak, yaitu;
- Ompu Saha Hulubalang (Parsanti Ulu Balang)
- Raja Isora

Raja Isora mempunyai 1 (satu) orang anak yang bernama Datu Morani Aji. Kemudian Datu Morani Aji mempunyai 3 (tiga) orang anak, yaitu;
- Ompu Pamarpar
- Ompu Toga Raja
- Ompu Tuan Nabue

Ompu Pamarpar mempunyai 2 (dua) orang anak, yang bernama Ompu Sait Pagar, dan Ompu Tinumpahan. Pada kisahnya, Ompu Tinumpahan dari Negeri Tamba kemudian pergi ke Humbang tepatnya di Dolok Sanggul, untuk menjumpai saudaranya Ompu Saha Ulu Balang (Parsanti HuluBalang) yang saat itu masih menggunakan marga Siambaton.

Menurut sejarah bahwa salah seorang keturunan dari Munte Tua ada yang bergelar Raja Parultop yang menjadi marga Haro Munte. (Siapakah Dia?? ikuti Sejarah Marga Haro Munthe selanjutnya....)

Haro Munthe Tidak Sama Dengan Haro Raja Guk-Guk

(Raja Parultop dikenal sebagai seorang dukun besar yang dulunya tinggal di Huta Sibabiat Negeri Tamba, yang mempunyai sebuah ULTOP (merupakan sejenis senjata zaman dulu yang terbuat dari bambu) yang mana ULTOP-nya berlilit kulit Lintah yang sampai saat ini masih disimpan dengan baik oleh keturunannya di Huta Sibabiat Negeri Tamba).

Keturunan Raja Parultop di Negeri Tamba menurut sejarah memakai marga Haro Munthe. Setelah beberapa keturunan Haro Munthe berada di Negeri Tamba, suatu ketika datanglah marga Haro Raja Guk Guk ke Negeri Tamba yang bernama Ompu Djohana yang keturunannya sekarang ini adalah keturunan dari Ompu Tuan Lada.

Dengan demikian tinggallah di Negeri Tamba 2 marga yang sama-sama memakai Haro yaitu Haro Munthe dan Haro Raja Guk Guk. Karena sama-sama memakai marga Haro, masyarakat kadang-kadang bingung mana yang Haro Munthe, dan mana yang Haro Raja Guk Guk. Kadang kala juga masyarakat menganggap mereka sama, akan tetapi kenyataannya Haro Munthe adalah keturunan dari Munte Tua, yaitu anak ke-4 dari Raja Naimbaton, sedangkan Haro Raja Guk Guk adalah perpecahan dari marga Raja Guk Guk yang parsadaannya adalah Si Raja Lontung.

Untuk mengatasi keragu-raguan masyarakat terhadap siapa Haro Munthe, dan siapa Haro Raja Guk Guk terutama yang berada di Negeri Tamba, maka pada Tahun 1962 Haro Munthe yang berada di Negeri Tamba, maupun di perantauan mengadakan Pesta Partamiangan selama 3 hari berturut-turut yang juga dihadiri oleh abang/adiknya Marga Munthe yang berada diluar Negeri Tamba, seperti Munthe dari Dolok Sanggul, Sidi Kalang, Pollung, dan dari Huta Hauganjang.

Dalam acara pesta tersebut, pada saat menari (manortor) yang diikuti Haro Munthe bersama abang adiknya sambil memegang ULTOP pusaka peninggalan Raja Parultop. Kemudian setelah pesta partamiangan selesai, maka jelaslah diketahui oleh masyarakat umum bahwa antara Haro Munthe dan Haro Raja Guk Guk yang ada di Negeri Tamba tidak ada hubungan silsilah marga sama sekali, dan Haro Munthe yang ada di Negeri Tamba, banyak mempunyai abang adik yang berada di luar Negeri Tamba terutama Munthe yang ada di Humbang (Dolok Sanggul).

Bagi Masyarakat Batak yang ada diperantauan maupun yang tinggal di Bona Pasogit selalu bergabung ke persadaannya misalnya; marga Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Aritonang, Siregar, parsadaannya adalah Si Raja Lontung. Kemudian contoh lain seperti marga Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, Munte Tua, Nahampun Tua, persadaannya adalah Naimbaton dan begitu jua marga-marga lain yang semuanya ada persadaannya.

Sebagai mana telah kita jelaskan sebelumnya Naimbaton adalah nama seorang Ibu yaitu nama isteri pertama Tuan Sorimangaraja nama itu melekat padanya adalah karena nama anaknya Siambaton, nama Naimbaton inilah yang menjadi nama untuk keturunan Siambaton atau Tuan Sorbadijulu lebih popular nama itu diakronimkan PARNA (Parsadaan Naimbaton). Namun Setelah kongres PARNA tahun 1946 di Sibolga, singkatan PARNA berubah menjadi Parsadaan Raja Naimbaton.

Kalau melihat silsilah masyarakat Batak bahwa Raja Naimbaton adalah sundut ke-4 (empat), dan Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) adalah sundut ke-6 (enam) dengan demikian perkawinan Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) ke salah seorang boru dari marga Tamba Lamban Tonga-Tonga adalah bertentangan dengan apa yang dipesankan oleh Naimbaton sebagai mana telah dijelaskan diatas.
Sekarang timbul pertanyaan;

Bagaimana kedudukan keturunan Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) Haro Munthe selama ini dalam wadah Persadaan Raja Naimabaton (PARNA)..??

Jelas bagi keturunan Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) hal ini sering merupakan permasalahan dan tanda tanya apakah masuk PARNA atau tidak oleh karena sering timbul permasalahan sehingga ada beberapa oarang bermarga Haro Munthe mengaku dirinya Haro Raja Guk-Guk walaupun di Marga Raja Guk-Guk tidak jelas kedudukannya menurut silsilah.

Untuk mengatasi permasalahan dari keragu-raguan tersebut diatas udah sering dilakukan musyawarah oleh para tua-tua adat yaitu di Bona Pasogit Negeri Tamba dan puncaknya adalah musyawarah pada Tanggal 15 September 1982 di Kota Medan, yang dihadiri oleh utusan dari Bona Pasogit Negeri Tamba mewakili Haro Munthe si Tolu Ama yaitu Ompu Jahipas Munthe, utusan dari kabupaten Labuhan Batu adalah Ompu Parsaoran Munthe, utusan dari kota Medan sekitarnya Amani Robinson Munthe, utusan dari Dolok Sanggul adalah Apu Munthe, utusan dari Tongging adalah guru Nathan Munthe, Letkol N. Munthe, dan St. M. Munthe, musyawarah tersebut juga dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Munthe/boru kota Medan sekitarnya, yaitu St. Maraden Munthe.

Hasil musyawarah adalah; terhitung sejak hari Sabtu tanggal 10 September 1982 Haro Munthe yang ada di Bona Pasogit Negeri Tamba dengan Haro Munthe yang merantau dari Bona Pasogit diseluruh Indonesia/Dunia supaya hanya memakai marga MUNTHE.

Hasil musyawarah tersebut diatas memang sangat berat untuk dilaksanakan terutama bagi mereka yang tinggal di Bona Pasogit, dan mengambil boru tulangnya, dan juga bagi mereka yang sudah dewasa yang mana dalam dokumen katakanlah seperti; akte kelahiran, ijazah, dan dokumen lainnya sudah memakai marga haro munthe, namun demikian kami menyarankan kepada seluruh marga haro munthe terutama generasi muda supaya melaksanakan hasil musyawarah tersebut diatas.

Hubungannya Haro Munthe Dengan Tamba

Sudah merupakan suatu kebiasaan bagi warga masyarakat batak, orang tua selalu menganjurkan kepada anaknya laki-laki (terutama yang sulung) untuk mengawini paribannya (mangalap boru ni tulangna), dulu kebiasaan ini sering terjadi seseorang kawin dengan paribannya/boru tulangnya.

Dalam adat yang hidup pada keluarga batak bila seseorang anak pertama mau berencana kawin akan tetapi tidak kepada paribannya/boru tulangnya selalu diusahakan MANULANGI TULANGNYA, tujuannya adalah meminta doa restu agar si pemuda tadi jodoh dengan calon istrinya dan kalau sudah mengikat perkawinan supaya keluarga tersebut menjadi keluarga yang harmonis, karena ada kalanya si tulang selalu mengharap bahwa berenya akan menjadi menantunya apabila kebetulan ada boru dari tulang yang sepadan umurnya dengan berenya, dan apabila seorang pemuda yang berencana kawin tanpa pamit dengan tulangnya sedangkan boru tulangnya ada yang tepat yang sudah dewasa dan sepadan hal ini dapat berakibat renggangnya hubungan kekerabatan.

Dari uraian diatas sangatlah jelas bahwa seorang anak laki-laki (pemuda) kalau mau kawin selalu mencari boru ni tulangnya setidak-tidaknya yang semarga dengan ibunya, kebiasaan ini pada zaman dulu sangatlah banyak kita jumpai tapi pada zaman sekarang ini kebiasaan tersebut sudah semakin ditinggalkan terutama mereka yang tinggal di perantauan/perkotaan.

Dalam sejarah Haro Munthe sebagaimana telah diuraikan pada halaman terdahulu bahwa Ompu Djalak Maribur (Datu Parultop) adalah keturunan Munte Tua dengan demikian jelas marganya adalah Munthe. Akan tetapi karena sesuatu hal yang terjadi akibat perbuatan Datu Parultop terhadap anak boru dari marga Tamba Lumban Tonga-Tonga sehingga pada saat itu Datu Parultop yang bermarga Munthe itu direstui mengawini perempuan yang telah disembuhkan dari penyakitnya. Akan tetapi dibelakang marganya ditambah kata Haro akhirnya jadi Haro Munthe.

Dengan kawinnnya Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) keturunan Munte Tua dengan boru dari marga Tamba Lumban Tonga-Tonga maka sejak itulah keturunan Ompu Djelak Maribur memanggil tulang kepada Tamba Lumban Tonga-Tonga dan anak keturunan Datu Parultop adalah bere Tamba Lumban Tonga-Tonga. Sesuai dengan kebiasaan yang hidup di masyarakat Batak sebagai mana telah diuraikan diatas tidaklah salah seorang laki-laki mengawini boru ni tulangnya malah inilah yang paling didambakan oleh para orang tua terutama zaman dulu.

Jadi apabila ada keturunan dari Ompu Djelak Maribur (Datu Parultop) yang mengawini boru dari marga Tamba Lumban Tonga-Tonga adalah yang mengambil Paribannya atau Boru ni Tulangnya, dan hal ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak beberapa ratus tahun yang lalu, terutama di Bona Pasogit (Negeri Tamba). Dengan majunya zaman terutama setelah merdeka banyak orang batak yang merantau keluar tanah kelahirannya dan sampai saat ini orang batak telah banyak di perantauan khususnya di kota-kota besar yang ada di Indonesia.


Sumber : Djabaik Paulus Munthe, SH Blog. http://haro-munthe.blogspot.com/search/label/Home
http://haro-munthe.blogspot.com/search/label/Home
haro-munthe.blogspot.com

Jumat, 10 Mei 2013

"@"nikolas munte
KISAH RAKET YANG RUSAK
inspiratif .com

Seorang anak laki-laki kecil tanpa sengaja merusakkan raket milik ayahnya. Karena takut, ia menyembunyikan raket itu di bawah tempat tidur dalam kamarnya.

Setiap kali ayahnya memasuki kamar, hatinya ketakutan. Ia sengaja duduk di atas tempat tidur, khawatir sang ayah mengangkat tempat tidur kemudian menemukan raket yang ia rusakkan. Karena itulah ia selalu berusaha memindahkan raket yang ia rusakkan ke tempat lain sesering mungkin, dengan harapan sang ayah tidak akan dapat menemukannya.

Sejauh ini semuanya selalu bisa diatasi dengan baik. Kesalahannya tetap tertutup rapat-rapat di depan ayahnya. Namun, selama itu pula hatinya tidak tenang. Setiap saat rasa bersalah muncul dan menghakiminya. Kemana pun ia pergi, hatinya selalu tertuju kepada raket sang ayah yang pernah ia rusakkan.

Semakin sering ia memindahkan raket yang ia rusakkan, ia semakin gelisah, karena itu berarti semakin sedikit tempat yang memungkinkan ia menyembunyikan raket rusak itu. Dalam ketertekanannya, akhirnya ia mengambil raket rusak itu, membawanya di tangan kanannya, kemudian mendatangi ayahnya dengan takut.

Setelah berada di depan ayahnya, ia pun berkata sambil menunjukkan raket rusaknya, “ayah, maafkan aku karena telah merusakkan raket ayah, aku siap untuk dihukum.”

Mendengar pengakuan anaknya, sang ayah membungkuk dan berkata, “nak, ayah sudah tahu semua itu dari minggu lalu, ayah hanya menunggu kamu mempunyai keberanian untuk mengakuinya. Sekarang ayah hendak berkata kepadamu bahwa ayah memaafkanmu.”

Kalimat terakhir dari sang ayah benar-benar membuat sang anak lega dan merasa bebas. Mengakui kesalahan adalah awal dari sebuah perbuatan besar, dan mempertanggungjawabkan kesalahan adalah langkah menuju kebahagiaan.